balai agung heaven terasa lebih dingin dari biasanya, bahkan lebih hening dari biasanya.
Pilar-pilar kristal raksasa menjulang tinggi hingga ke langit langit. Cahaya suci yang menyilaukan memenuhi setiap sudut ruangan, memantul dari lantai kristal bening sehingga tak ada satupun bayangan yang bisa bersembunyi.
Para Heavenly Elders duduk mengelilingi Lumi dalam formasi setengah lingkaran, cahaya mereka begitu terang hingga wajah asli mereka sulit terlihat — hanya siluet penuh wibawa dan kekuasaan.
Lumi berdiri tegak di tengah ruangan. Sayap putihnya masih terbentang sempurna, tapi terasa lebih berat dari biasanya, seolah sudah mulai menanggung dosa yang ia perbuat.
Elder Utama membuka sidang dengan suara yang menggema seperti gemuruh langit yang jauh.
“Lumi, pewaris tugas pengantar jiwa — pembawa buku takdir. kau berdiri di sini karena tuduhan berat. Kau telah melanggar Hukum Takdir yang paling mendasar. Kamu mengubah waktu kematian seorang yang sudah tertulis di Kitab Agung. Kamu memberinya satu hari tambahan yang tidak berhak kamu berikan”
lumi mengigit bibir bawahnya saat elder utama menyuarakan dosa yang telah lumi lakukan.
“Apa pembelaanmu?”
Seluruh ruangan sunyi,Semua Elder menatapnya — menunggu jawaban, pembelaan, apapun yang bisa Lumi berikan sekarang.
Lumi menarik napas dalam-dalam. Suaranya tetap tenang saat menjawab, “Aku tidak menyangkal perbuatanku. Aku memang memberinya satu hari.”
suara bisik-bisik langsung menyebar di antara para Elder. Beberapa cahaya mereka berkedip marah.
Seorang Elder di sebelah kiri berbicara dengan nada tajam, “Kamu berani mengakuinya tanpa rasa malu? Apakah kamu tidak mengerti betapa besar dosamu? Kamu bukan hanya melanggar aturan — kamu menganggap dirimu lebih tinggi dari Takdir itu sendiri!”
“itu tidak benar!, aku tidak pernah menganggap diriku lebih tinggi dari takdir, hanya saja aku melihat sesuatu yang menyayat hatiku.” suara lumi sedikit bergetar — “dia seorang ayah muda yang bertahun tahun berjuang demi kehidupan anaknya, ia sakit parah — tapi ia tetap berlari di tengah hujan hanya demi boneka kecil untuk anaknya.”
tangannya mengepal erat, “ia berlutut di trotoar yang basah, menangis tersedu sedu dan memohon untuk satu hari saja, bukan untuk dirinya — tapi untuk putrinya.”
lumi kini menatap lekat kearah elder utama.
“Aku sempat ragu lama sekali. Aku memikirkan konsekuensinya, Aku tahu aku pasti akan dihukum. Aku tahu ini melanggar segala aturan yang diajarkan sejak aku lahir tapi — aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup menarik jiwanya saat itu juga, saat dia memohon dengan segenap hatinya hanya demi senyum anak kecil. Apakah satu hari kebahagiaan itu benar-benar dosa yang sebesar ini?”
elder utama bersuara lagi, kini suaranya lebih penuh otoritas dan dingin.
“Belas kasihmu sudah berubah menjadi kesombongan, Lumi. Tugasmu adalah mengawasi takdir manusia dan menjemput mereka yang sudah tiba di waktunya, bukan mengubahnya karena perasaanmu yang sementara. Satu hari yang kamu berikan itu bisa menggangu keseimbangan .”
menggangu?
Lumi tertawa kecil, penuh amarah.